Month: March 2014

You Know My Name But Not My Story

Orang-orang bilang, “You know my name, but not my story” dan jelas itu bener.

Kita nggak bisa nge-judge orang cuma dari satu perspektif aja.

Contohnya, aku cerita ke Jono kalau Jini nabok muka aku pake wedges-nya yang berharga sepuluh juta. Jono langsung menyimpulkan bahwa Jini adalah cewek jahat dan aku yang baik hati ini nggak pantas punya teman kaya Jini. Masih banyak orang lain yang bisa kamu jadiin teman, kata Jono. Padahal, Jono nggak tau apa yang menyebabkan Jini nabok mukaku. Bisa jadi, sebenarnya Jini punya penyakit “pengen nabok orang tiap tiga jam” atau ada nyamuk raksasa nempel di pipiku dan dia refleks nabok si nyamuk dan artinya juga nabok mukaku.

Jono harus dengar ceritanya dari perspektif Jini juga.

Jono juga harus tau apa yang Jini rasakan, apa motif Jini dalam melakukan tindakan penabokan, dan sejenisnya.

Kalau Jono cuma mendengar ceritaku, artinya otomatis Jono akan berpihak kepadaku dan ikut-ikutan membenci Jini seperti aku membencinya.

Orang seperti Jini bisa saja memiliki sebuah perspektif atau cara berpikir yang hanya dia sendiri yang mengerti bagaimana caranya berpikir seperti itu.

Hanya dia yang mengerti kenapa dia berpikir seperti itu.

Orang seperti Jini jelas tidak bisa sembarangan menceritakan pemikirannya. Salah-salah, justru ia menambah jumlah orang yang seenaknya nge-judge dia negatif.

Dan orang-orang seperti Jono, adalah tipe provokator. Begitu mendengar aku ditabok, dia langsung membuat simpulan-simpulan sendiri yang akhirnya mempengaruhiku, membuatku semakin membenci Jini.

Tapi, inilah dunia tempat kita hidup, dimana kita bebas men-judge orang yang tidak kenal, atau yang kita kenal dari cerita satu pihak saja. Kita bisa ikut menyukai atau parahnya membenci.

Yang di-judge bisa apa? Yaah, just smile and wave, baby. Smile and wave. Toh yang di-judge juga belum tentu kenal dengan yang nge-judge kan? Jadi nggak usah dipikirin.

Setiap cerita memang harus utuh, diceritakan dari sudut pandang setiap pemerannya. Supaya semuanya jelas, bebas fitnah, dan bisa dipahami setiap orang.

Sekarang aku mengerti kenapa berita harus cover both side.

Advertisements

Aku Tak Bisa Hidup Tanpa Pacar

Perempuan itu bernama Chiara Juniarsih, akrab disapa Chia. Usianya 22 tahun, terlahir bak boneka Barbie hidup dengan mata bulat, hidung mancung, dan dagu indah menggantung. Kulitnya putih bersih, kakinya jenjang, jemarinya lentik. Suaranya pun indah, hal ini dibuktikan dengan segudang prestasinya dalam ajang pencarian bakat.

Image

ceritanya ini Chiara Juniarsih saat diwawancarai di studio pribadinya. Picture: toys.about.com

Menjadi perempuan berpostur nyaris sempurna membuat Chia selalu dipuja oleh kaum Adam. Ibaratnya, Chia bisa menunjuk sembarang pria untuk menjadi kekasihnya, kapanpun ia mau. Chia memiliki tak kurang dari tiga lusin mantan kekasih yang dikoleksinya sejak duduk di bangku SMP kelas satu. Cinta bertepuk sebelah tangan adalah hal yang paling tidak mungkin terjadi pada Chia. Chiara Juniarsih terlahir untuk dicintai, bukan mencintai.

Saat ini Chia berkarier sebagai fashion blogger, sesuatu yang diidam-idamkannya dari dulu. Urusan uang bukan masalah karena Chia selalu memiliki seorang lelaki untuk menunjang kecantikan abadinya. Chiara dan kekasihnya, adalah dua orang yang akan selalu menjadi satu, meski sang kekasih harus rela digonta-ganti.

Selamat siang Mbak Chia!

Ya, selamat siang.

Langsung aja nih Mbak. Jadi bagaimana perasaan Mbak sebagai orang yang harus selalu memiliki pacar?

Aku merasa senang. Memiliki pacar adalah sebuah kewajiban dalam hidup aku, seperti aku yang harus selalu memakai maskara setiap hari. Toh, lelaki-lelaki itu yang mengejar aku. Jadi aku senang-senang aja sih.

Apakah itu berarti Mbak sering galau?

Lumayan, ya. Soalnya aku terbiasa untuk punya pacar. Jadi aku akan merasa insecure kalau harus putus sama pacar aku. Pacar aku itu orangnya aneh-aneh deh. Masa ngambek Cuma gara-gara aku lupa lipstik warna apa yang aku pake pas kencan pertama kita. Jadi aku harus sering-sering kabur dari acara-acara penting yang harus aku datengin, Cuma buat nenangin dia…

Memangnya Mbak pernah diputusin?

Eh… nggak sih, selalu aku yang mutusin. Hihihihi

Duh, Mbaknya cantik tapi ketawanya kaya kunti yaa. Paling lama Mbak menjomblo berapa lama?

Berapa yaa? Kayanya 12 jam deh. Hihihi aku lupa nih.

12 jam? Waah cepat juga ya Mbak, move on nya. Saya aja udah enam tahun masih belum move on loh. Eeh kok saya malah curhat. Lalu apa yang terjadi pada Mbak selama 12 jam itu?

Iya dong. Kan cowok-cowok itu udah pada ngantri buat jadi pacar aku. Udah kayak ngantri toilet gitu deh. Hihihi. Gak papa kok kalo kamu mau curhat. Tapi nanti ya, abis wawancara aku. Hihihi. Waktu itu, aku langsung gatel-gatel. Badanku bentol, merah-merah gitu. Pernah juga pas abis diputusin, aku langsung punya bisul segede dunia akhirat di pantat. Jerawat gede di ujung hidung juga pernah. Pokoknya, kalo aku udah putus, jadi serem deh.

Buset Mbak, ketawa kunti mulu. Saya jadi serem, nih. Kalo mbak kulitnya jadi bermasalah gitu, nggak ada yang naksir dong?

Tetep ada doong. Kan aku udah bilang, mereka ngantri panjang buat jadi pacar aku, sampai punya nomer antrian segala. Hihihi jadi kalo mereka nembak aku, semua masalah kulit aku langsung hilang. Aku jadi cantik lagi. Hihihi

Waah, kok ajaib ya Mbak.. Sekarang lagi pacaran sama siapa Mbak?

Tadi abis Subuh, aku baru jadian sama Jonathan Kendil. Hihihi nomer antrian dia 37 tuh. Hihihi biar romantis, aku panggil dia Ken, trus dia panggil aku Barbie. Klop deh kita. Hihihi

Mbak masih ingat gak, sama cinta pertama Mbak?

Cinta pertama? Aku mana punya. Aku kan selalu dicintai, gak pernah mencintai. Hihihi siapa pacar pertamaku juga aku udah lupa saking banyaknya koleksi mantan aku.

Duuh Mbak, aku enek kalo Mbak ketawa mulu…

HEH, MAU WAWANCARA ATAU NGGAK????!!!!! *copot sepatu*

Ampuun Mbaaak.. Mauu.. Mauu.. Mbak make up nya tebal ya? Berapa lapis?

Huh, jadi manyun kan akunya. Make up? Iya doong. Kan aku udah terlahir cantik ya, tapi aku ngerasa hidupku nggak lengkap kalo nggak pake make up. Berapa lapis ya? Ratusan! Hihihi memangnya aku wafer. Nggak pernah ngitung tuh. Hihihi soalnya aku punya tim tata rias sendiri. Aku sih nggak bisa dandan sendiri ya, aku Cuma bisa pake lipstik sama maskara. Hihihi

Duh Mbak… Saya mau muntah.. Eeeh terakhir deh Mbak. Apa tips dari Mbak supaya orang-orang bisa gampang dapat pacar kayak Mbak?

Sederhana sih. Makanya, punya muka kayak aku! Hihihihihihihihihihi

*lempar cakram*

wawancara ini hanya fiktif belaka dan tentunya hanya terjadi di khayalan saya. Apabila terdapat kesamaan nama dan kejadian, itu bukanlah sebuah kesengajaan walaupun ini terinspirasi dari seseorang. HIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI

Kata Jantung

Selamat malam.

Aku adalah jantung yang terperangkap di balik tulang rusuk seorang perempuan muda berusia 20 tahun. Perempuan ini adalah perempuan yang sangat biasa. Wajahnya biasa, bentuk tubuhnya biasa, prestasinya juga amat sangat biasa. Perempuan muda ini adalah perempuan yang biasa kau temui di setiap desa, setiap kabupaten, atau setiap provinsi. Namun, apa yang dilakukannya padaku sungguh luar biasa.

Lima tahun lalu, ia ditolak oleh lelaki yang dicintainya setengah mati. Cinta monyet pertamanya. Saat itu, ia tertawa getir sementara aku kesakitan. Beberapa bagian tubuhku retak dan berdarah, dan ia masih pura-pura tidak menyadarinya.

Empat tahun lalu, ia begitu bahagia hingga membuatku terlonjak-lonjak. Aku berdetak cepat dan ia melompat. Syukurlah, ia bahagia.

Tiga tahun lalu, ia dikecewakan oleh orang-orang di sekelilingnya, memaksaku memompa darah yang panas menjalari tubuhnya. Ia marah tetapi tak bisa berkata apa-apa. Ia marah dan itu membuatku semakin lemah.

Dua tahun lalu, ia mulai kecanduan kafein. Tiada pagi dilewatinya tanpa secangkir kopi. Tiada malam dilewatinya tanpa kaleng-kaleng minuman berenergi. Aku bergerak tak terkendali, mencoba menolak. Tapi apa daya, aku hanya sebuah jantung dan ia yang memiliki kendali atas diriku.

Hari ini, ia membuatku berdetak begitu lemah hingga sekujur tubuhnya dingin. Semua perasaan yang dibebankannya padaku, bergejolak hari ini, malam ini. Tapi ia menahan untuk tidak merintih, sementara aku berdetak dengan letih.

Dia membuat lelucon, lelucon yang sama sekali tidak lucu menurutku. Dia mencoba tertawa, tertawa di atas leluconnya sendiri. Masih jauh lebih baik baginya untuk tertawa sekeras-kerasnya daripada harus menangis sejadi-jadinya.

Perempuan ini berpura-pura tegar, dan itu membuatku tersiksa. Aku berontak, menggedor setiap rongga dadanya, berharap ia jujur akan apa yang dirasakannya. Namun perempuan ini masih berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa pada dirinya.

Dasar perempuan dengan harga diri tinggi. Apa susahnya kau mengeluarkan air mata, agar aku tak lagi menderita? Apa susahnya kau berteriak, agar tubuhku tak lagi retak? Apa susahnya kau jujur pada dirimu sendiri?

Menangislah. Berteriaklah.

Perempuanku, kau benar-benar ingin aku hancur?

 

Selamat malam.

Jantungmu.

Pangeran Matahari, A Random Story 2: Musim Hujan

Aku berlari menyusuri lorong sekolahku. Sial! Aku terlambat lagi. Ini semua gara-gara aku begadang demi membaca novel romantis mengharu biru yang baru kupinjam. Beruntung, ketika sampai di kelas, guruku belum masuk dan nyawaku masih terselamatkan.

Aku mematung di depan kelas, mencari bangku kosong yang bisa ku tempati. Satu-satunya bangku yang tersisa hanyalah bangku paling belakang di bagian tengah, yang artinya aku harus membelah lautan manusia ini untuk menuju bangku impian.

Gubrak! Gedubrak! Bruk! Krompyang! Wuaduh! Sabar Buuu! Meeooonggg!

Loh, kok ada suara kucing…..

Pahaku yang tak kalah seksi dibanding paha anak sapi itu sukses menghantam setiap orang dan setiap bangku yang kulewati. Yah, siapa suruh menghalangi jalanku. Siapa suruh kelas ini sempit sekali. Siapa suruh aku terlambat. Siapa suruh aku menyalahkan keadaan.

Tepat ketika aku mendarat di bangku impian, guru masuk dan memulai pelajaran hari ini. Geografi. Sungguh membosankan. Aku memilih untuk mencoret-coret bagian belakang bukuku ketika aku mendengar sebuah suara yang familiar.

“Duh, Kii….”

Glek! Suara ini! Aku menoleh ke kiri, dan huwalahumba! Orang itu! Orang dengan potongan rambut seperti tokoh cowok dalam komik cewek itu! Pangeran Matahari!

Bagaimana ia bisa berada di sini? Maksudku, bagaimana ia bisa terselip di antara dua orang seperti ini? Aku berani bertaruh demi sepotong cheesecake bahwa empat puluh bangku yang ada di kelas ini terisi penuh. Apakah dia sebegitu kurusnya sampai-sampai bisa nyempil begitu?

“Aku kan Pangeran Matahari, Kii. Cuma kamu yang bisa melihatku, makanya aku bisa nyempil di sebelahmu,” ujarnya. Aku memperhatikan Pangeran Matahari dengan seksama. Ia begitu berbeda dibanding perjumpaan pertama kami dulu. Sekarang, ia mengenakan sweater tebal dan memancarkan aura dingin, tidak sehangat matahari sore yang mulai kusukai.

Dan wajahnya yang selalu mempesona di bawah matahari sore itu pucat…

“Hei, kau sakit?” tanyaku. “Kenapa memakai pakaian seperti ini? Kemana baju gombrongmu yang cerah itu?” tanyaku lagi.

“Mana mungkin aku sakit,” jawabnya dingin, membekukan hatiku. “Aku bukan manusia sepertimu yang bisa terkena sakit. Semua ini gara-gara hujan,”

“Gara-gara hujan? Kau hujan-hujanan sampai masuk angin?”

“Sudah kukatakan, aku tidak mungkin masuk angin!” Ia menatapku tajam, tapi dari matanya aku masih bisa melihat sisa-sisa kehangatan yang dimiliki Pangeran Matahari. “Pangeran Mendung menguasai dunia langit saat ini. Ia tak membiarkan kerajaanku bersinar seperti enam bulan lalu. Ia sama sekali tak memberi kami kesempatan!”

“Ah, ya, sekarang memang musim hujan…” gumamku.

“Kau mencintaiku, kan? Bantu aku melawan Pangeran Mendung, Kii.”

Ia menatapku dengan sungguh-sungguh sementara aku terperangah. Aku? Melawan Pangeran Mendung? Kehidupan sinetron murahan apa yang sedang kujalani saat ini?

“Hei, yang benar saja! Apa yang bisa dilakukan olehku, perempuan yang hanya bisa makan tahu bulat dan cimol tasik ini?” ah, aku teringat pada cimol. “Lagipula,” lanjutku “Bukankah memang seharusnya seperti ini? Kau berkuasa saat musim kemarau, lalu enam bulan kemudian Pangeran Mendung menggantikanmu. Dunia berjalan seperti itu, kan?”

“Tapi, aku kedinginan Kii…” Ia menyilangkan kedua lengannya di dada, memeluk dirinya sendiri. “Melawan Pangeran Mendung adalah satu-satunya cara agar aku kembali hangat dan bersinar. Aku yakin, kau pasti bisa membantuku, Kii..”

“Lalu seluruh dunia kesusahan karena hujan tak kunjung turun? Selalu ada hikmah, dibalik setiap peristiwa, Pangeran,” Aku melingkarkan lenganku di bahunya, berusaha membuatnya merasa lebih hangat.  Ia menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Kau tak membuatku merasa lebih baik, tapi terima kasih sudah berusaha,” Ia tersenyum. Aku merasakan sedikit kehangatan menjalar melalui lengan kiriku.

“Maaf, aku tak bisa memberimu solusi. Tapi, hei! Bagaimana kalau kau bekerja sama dengan Pangeran Mendung?” tanyaku.

“Bekerja sama?”

“Ya. Pangeran Mendung membuat hujan, kan? Kalian mungkin bisa bekerja sama untuk membuat pelangi. Pelangi selalu indah dan memberikan kehangatan bagi siapa saja yang melihatnya,”

Ia tersenyum lagi. Wajahnya terlihat lebih cerah. “Ide bagus,” ujarnya.

“Aku pergi dulu, Kii. Terima kasih atas saranmu. Sampai jumpa,” Kemudian, ia menghilang.

Sungguh, aku tak sabar menanti pelangi setelah hujan ini.

…Dan rambut ala komik ceweknya itu.

Hidup Bukan Buat Gelar

Malam ini, otakku rewel sekali meminta jemariku mengetik ocehannya.

Tiba-tiba otakku memutar memori tentang percakapan bersama teman-teman kostan ketika semester 1. Isinya kira-kira begini, “Kalau udah lulus, gelarmu apa?”

Aku cuma bisa menggeleng sambil cengengesan. Kemudian si teman kostan ini, sebut saja Jennifer, balik bertanya “Lho, masa kamu kuliah nggak tau nanti lulus bakal dapet gelar apa?

Nggggg…….

Dari dulu, sebenarnya aku memang nggak terlalu peduli begitu lulus dari sini akan ada huruf-huruf tambahan macam apa di belakang namaku. Berhubung udah ditanyain, jadi aku kepo sana-sini, daaaaaannn… jengjengg….

S.Ikom, Sarjana Ilmu Komunikasi. Itu gelar yang akan kudapatkan begitu menyelesaikan studi disini.

S.Ikom terdengar sangat aneh di telingaku. Tinggal ditambah huruf “o” di belakangnya, jadilah aku seekor komodo yang suka membuat macet jalanan ibukota. Mungkin ini disebabkan oleh tidak banyak universitas yang memberikan gelar ini, setahuku hanya Unpad dan USU saja (CMIIW). Dengan keanehan bunyi dan kemungkinan adanya orang iseng yang menambah satu huruf lagi di belakangnya, jadi aku akan memastikan kalau aku cuma memakai nama lahir dimanapun dan kapanpun. HAHAHA *kemudian hening*

Yah, memang sih ada orang yang “gila gelar”, kalau nggak, nggak mungkin ada tukang jualan ijazah dong yaa. Tapi bagiku, hidup bukan tentang ada berapa banyak “S. Anu” atau “M. Itu” atau gelar doktoral (bahkan profesor) yang berbanjar rapi di depan dan belakang namamu. Apalah artinya gelar kalau kita belum melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain, bagi nusa dan bangsa? Iya toh?

Ngomong-ngomong, aku udah ngelakuin apa ya untuk nusa dan bangsa?

Kenapa Begini dan Kenapa Begitu

Sesungguhnya tengah malam adalah waktu yang tepat bagi pemikiran-pemikiran random untuk muncul dan menghalau kantuk, kemudian otak dengan isengnya memerintah tangan untuk mengetik pemikiran-pemikiran konyol itu di blog….. untuk kemudian dipublikasikan. Sungguh tidak penting.

Namanya juga iseng, jadi kita mulai sajalah.

Pertanyaan pertama yang diajukan sisi suka-bertanya-apapun-tentang-manusia-ku adalah: Kenapa seseorang bisa merasa terasing alias teralienasi?

Aku pernah menanyakan hal ini pada dosen psikologi komunikasiku, Pak Uud Wahyudin, ketika semester 2. Beliau berkata bahwa seseorang merasa terasing sebenarnya karena citra diri yang dibentuknya sendiri. Kamu adalah apa yang kamu pikirkan. Jadi, kalau kamu berpikir atau merasa bahwa kamu dijauhi oleh orang-orang di lingkungan kamu dan merasa sendirian, maka itu adalah kesalahan pikiran negatifmu terhadap lingkungan. Bahasa gampangnya: itu cuma perasaanmu saja.

Begitu mendengar jawaban beliau, aku merasa puas, merasa pertanyaanku terjawab dengan baik. Nyatanya, dua semester kemudian pertanyaan tadi menimbulkan pertanyaan baru: Bagaimana jika kita telah mencoba berpikir positif mengenai citra diri sendiri dan lingkungan, tetapi tetap saja lingkungan mengatakan bahwa kita DITOLAK. Nah lho, apa jawabannya? Kenapa ini bisa terjadi? Sayangnya aku tak tahu harus bertanya pada siapa, jadi pertanyaan ini terus saja menari Samba di kepalaku.

Pertanyaan kedua adalah: sampai kapan seseorang mencari jati diri?

Pernahkah kalian bercermin sambil cengengesan sok imut, atau melihat koleksi foto-foto selfie kemudian sebuah pertanyaan muncul di benak kalian, seperti “siapa orang ini?” Kalian merasa asing dengan bayangan kalian sendiri di cermin. Kalian mulai memperhatikan setiap detail yang ada di wajah kalian, kemudian kalian merasakan rongga dada kalian hampa. Kalian masih tidak merasa bahwa kalian sedang melihat diri sendiri. Tentu yang kumaksud disini bukanlah kalian yang baru selesai permak muka habis-habisan atau sedang mengenakan topeng doraemon. Bukan, maksudku tentu saja wajah asli kalian. Apakah ada yang pernah merasa seperti ini? Atau jangan-jangan hanya aku satu-satunya orang di dunia yang mengalami hal mengerikan ini?

Mungkin aku sudah gila.

Sampai kapan sih, seseorang akan menemukan jati dirinya? Menemukan bakatnya? Menemukan ia akan jadi apa kelak? Ketika ada remaja-remaja bandel, orang-orang akan berkata, “namanya juga ABG, masih proses pencarian jati diri,” Apakah usia 19 masih layak disebut ABG yang sedang mencari jati diri? Syukur kalau iya.

Bakat? Kenapa ada orang yang bisa dengan mudah menemukan bakatnya, seperti mereka yang mahir berkesenian atau berolahraga. Kenapa ada orang yang merasa bahwa bakatnya adalah ini, tapi ternyata bukan?

Sekarang, aku kuliah Jurnalistik. Tapi, apakah sepuluh atau tigapuluh tahun lagi aku PASTI menjadi jurnalis? Atau aku justru menjadi istri orang kaya yang setiap hari kerjanya ke salon dan berfoya-foya?

Tuhan, maafkan aku yang terlalu banyak bertanya hal-hal yang menjadi kuasa-Mu

Aku masih punya banyak pertanyaan lainnya, tapi aku rasa aku akan benar-benar menjadi gila jika terus mempertanyakannya, membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu menguasai otakku dan membuatku lupa akan segalanya.Jadi, kita hentikan saja tulisan penuh tanda tanya ini seraya berharap, Tuhan segera memberi jawaban atas tanyaku.

Bukan Tentang Bangunan, Tapi Tentang Kenangan

Jujur, banyak hal yang kubenci dari sekolah itu, terutama birokrasinya. Namun bagaimana aku bisa menahan lajunya air mata saat melihat tempat kenanganku rata dengan tanah?

Maka aku hanya bisa mengenang…..

Image

Ini bagian depannya, waktu kelas 10. alay kan? alay dong

Image

waktu banjir kelas 10. hehe ruangan kelas ini ikut hanguskah?

loh, foto kelas 11 kok ilang……

Image

foto najong kelas 12. fix banget kelas yang ini udah hangus :””)

Image

narsis dikit ya. di bawah pohon jambu yang emang udah almarhum sejak aku kelas 12 nih. mushola yg di belakang itu udah kebakar juga pastinya :”(

Dan masih banyak foto lain yang ga mungkin aku upload semua. ntar blogku jadi album foto SMA lagi. tapi intinya. bagi kami para alumni memang kenangan adalah yang terpenting, bukan bangunannya. tapi, bukankah suatu saat nanti, sepuluh atau tigapuluh tahun lagi, kita ingin kembali ke tempat yang sama saat kita bertengkar dan bercanda dalam romantika, bersama teman-teman di SMA?

terakhir, inilah foto sekolahku malam ini.

Image

bagian depan sekolah. cuma bisa upload satu. ga shanggup liatnya sih. credit to: orang-orang yang share ini di facebook

Terima kasih, atas segala kenangan. Semoga ada hikmah dibalik semua kejadian ini. Semoga adik-adik kami masih dapat terus bersekolah, terutama kelas 12 yang akan mengikuti Ujian Nasional.

Al-Fatihah…