Month: February 2014

Valentine Oh Valentine

Hari ini 13 Februari 2014 dan besok 14 Februari 2014, tanggal dimana orang-orang menyebutnya sebagai “Hari Kasih Sayang” atau versi londho-nya: Valentine’s Day. Apa itu Valentine’s Day dan bagaimana asal usulnya?

Sebelum kita memulai intrernet trail alias bertanya kepada Raja Google, mari mulai menelaah asal usul Valentine’s Day dari kesoktahuanku dulu. Dilihat dari namanya, Valentine’s Day adalah hari milik si Valentine. Siapakah dia sampai memiliki satu hari miliknya sendiri? Aku juga nggak tahu karena Valentine’s Day sudah ada sejak sebelum 1995 jadi aku nggak kenal dia. Apapun itu, si Valentine ini beruntung sekali sampai punya satu hari yang didedikasikan untuk dirinya.

Sementara menurut Tuanku Rajo Google, (credit to situs ini) Valentine berawal dari hari besar kaum Romawi yang diperingati setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur. Namanya juga zaman dahulu kala ya, tentu saja kepercayaan-kepercayaan semacam ini masih sangat berlaku.

he Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).

Versi lainnya menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”.

Yah, begitulah kira-kira sejarah Valentine’s Day yang ada di buku-buku dan situs-situs internet yang mudah sekali kita baca dan temui dimana-mana.

ImageHal yang paling umum terjadi di media sosial ketika memasuki bulan Februari adalah banyaknya orang yang ngetwit atau update status berisikan “Orang Islam Tidak Boleh Merayakan Valentine”. Mereka bilang, Valentine’s Day bukan bagian dari ajaran Islam, Valentine’s Day adalah ritual agama lain, Valentine’s Day adalah Maksiat Berbungkus Hari Kasih Sayang, dan sebagainya, dan sebagainya. Padahal mah, kalau masalah maksiat juga tiap hari juga adaaa aja yang melakukan, bukan cuma 14 Februari doang.

Aku sendiri bukan tipe orang yang merayakan Valentine’s Day karena aku jomblo bagiku itu bukanlah sesuatu yang penting. Cowok kasih kado ke cewek yang disuka? Tunggu ulang tahun aja, kali. Masa dalam setahun harus dua kali ngasih kado. Belum lagi yang suka merayakan “anniversary pacaran” ada kadonya juga. Huft, kado-kado every month -_- (pelit detected!!)

 

Image

amboi, bunganya cantik

Menurutku Valentine’s Day hanyalah trik komersial para pengusaha bunga, cokelat, tukang kartu ucapan, dan cewek-cewek matre untuk meraih untung sebesar-besarnya. Mereka memanfaatkan kisah sejarah si Valentine untuk jualan dan mendapatkan barang yang diinginkan. Lihat saja, pengusaha bunga kebanjiran pesanan untuk kado Valentine dari seorang lelaki yang tergila-gila kepada seorang perempuan tapi ternyata ditolak. Pengusaha cokelat kebanjiran pesanan cokelat berbentuk hati berwarna pink bertuliskan “Be My Valentine”. Pengusaha kartu ucapan kebanjiran order kartu berbentuk hati berwarna merah atau pink. Orang-orang yang punya otak bisnis, memanfaatkan momen-momen semacam ini untuk membuat propaganda yang akan meningkatkan omzet mereka. Bahkan, ada juga yang bikin Broken Heart Valentine (atau semacam itu) untuk mereka yang lajang atau ditinggal kawin pacarnya pas 14 Februari datang.

Cewek-cewek matre akan memanfaatkan momen ini untuk meminta hadiah-hadiah mahal kepada pacar dan calon pacar yang mencintai mereka sepenuh hati.

Kalau cuma mau ngasih cokelat, kenapa harus nunggu Valentine? Dikasih cokelat tiap hari juga cewek bakal senang kok…

….Dan menggemuk

Kisah sejarah ini juga dimanfaatkan oleh lelaki-lelaki pintar untuk melamar kekasihnya di kaki gunung kidul Menara Eiffel dan ibu-ibu pintar untuk melahirkan anak supaya bernama Valentina, Valentino, atau ekuiValen. Orang-orang yang pintar akan memanfaatkan momen Valentine’s Day demi keuntungan dan kesenangan mereka, dan orang-orang yang tidak pintar akan termakan jebakan Valentine si orang pintar. Oke, ini sotoy maksimal.

Terlepas dari pro dan kontra keberadaannya, biarkan saja Valentine berlalu selama tidak menimbulkan masalah ini dan itu. Yang mau merayakan, ya silahkan. Yang tidak mau, ya silahkan juga menikmati promo dan diskon-diskon Valentine yang sering diadakan oleh toko-toko online. Saling menghargai lah. Negara demokrasi ini.

Ngomong-ngomong, kenapa Valentine’s Day identik dengan warna merah dan pink ya?