Month: January 2014

Utopia

Udara dingin pagi itu dan aku berdiri di sudut jalan, menunggu. Aku tak yakin akannya, tetapi aku mencoba. Siapa tahu memang semuanya menjadi nyata.

5.50 pagi. Aku sudah menunggu selama dua puluh menit dan ia tak kunjung tiba. Nyaris aku memutuskan untuk kembali ke pelukan selimutku yang hangat ketika aku melihat seseorang melambai dari ujung jalan. Ah, ia datang.

“Apa kabar?” Tanyanya, menjabat tanganku dan tersenyum.

Sungguh, aku rindu senyum itu.

Kami berjalan, menyusuri jalanan sepi. Bercerita tentang kabar kemarin dan hari ini. Ringan, sederhana, menghangatkan hati.

“Mau lari?” Tanyanya ketika napasnya mulai terengah.

“Memangnya kamu kuat?” Tanyaku.

“Kuat dong. Ayo!”

Ia mulai berlari dan aku menyusulnya, menempatkan diriku sejajar di sebelahnya. Kemudian kami duduk di pinggir jalan, meluruskan kaki yang letih. Udara pagi yang segar dan belum ada kendaraan lalu lalang membuatku bisa menarik napas panjang, lega.

Ia melingkarkan tangannya di bahu kiriku yang berkeringat dalam balutan jaket ungu. Aku diam, begitu pula dia, sibuk dalam pikiran masing-masing.

Dalam hening, tiba-tiba aku terjaga, menyadari semuanya bukanlah realita. Aku hanya pernah bermimpi tentang dia. Itu saja.

Advertisements

fin.

Aku pernah membayangkan tentang ini, bahkan menuliskannya berdasarkan khalyalanku. Berdasarkan mimpiku, berdasarkan keinginanku.

Tulisan itu pernah aku publikasikan di facebook, tapi entah kenapa aku hapus lagi.

Kemudian, semuanya menjadi nyata.

Tulisan itu, cerita yang ku buat, semuanya jadi kenyataan meski terjadi pada waktu yang terlambat.

Aku bukannya bertepuk sebelah tangan, aku hanya tidak beruntung.

Itu saja.

Sekarang semuanya jelas, melegakan sekali.

fin.

Thank you.