Month: December 2013

Pangeran Matahari: A Random Story

Matahari bersinar terik lagi hari ini. Seperti biasa, aku dan teman-temanku dijemur cantik oleh kakak-kakak kelas dalam rangka MOS sekolah. Aku benci keadaan ini. Aku benci matahari. Kulitku yang cokelat jadi hitam berkilau, dan rambutku yang hitam berkilau mendadak jadi cokelat. Di kiri-kananku semuanya terlihat sama. Cowok-cowok dan cewek-cewek, semuanya botak. Yah, aku udah nggak ngerti lagi sama jalan pikiran kakak-kakak ini.

Saat istirahat dan masih ditemani mentari siang yang menggelora panasnya, sebuah pemandangan indah menghampar di depanku. Bukan, aku nggak tiba-tiba menghilang dari sekolah dan mendarat di puncak gunung Bromo. Cowok. Iya, seorang kakak kelas cowok berambut agak panjang, berkulit layaknya ras mongoloid, hidung mancung, tinggi, dan kurus. Aku nggak tau kenapa ada anak SMA yang dibiarkan berambut panjang seperti itu. Mungkin dia adalah kontestan acara menyanyi di televisi dan nggak diizinkan untuk potong rambut oleh si manajer.

TIba-tiba, cowok itu menatap matahari dengan syahdu, dan sebuah keajaiban terjadi. Awan mulai bergerak gesit untuk menutupi matahari. Seketika, langit menjadi mendung dan gelap. Ajaibnya, satu-satunya sinar matahari yang masuk menyinari wajah cowok itu. Ia berpaling ke arahku, seolah sadar aku sedang mengamatinya. Bumi bergetar hebat, sama seperti hatiku. Getarannya membuat sebuah gumpalan kertas dari tempat sampah melayang dan mengenai tubuhnya. “Duh, Kii..” ujarnya padaku sambil menyingkirkan kertas itu dari tubuhnya. Aku nyengir. Ia mengibaskan poni. Bagaimana ia mengetahui namaku? Aku bahagia sehingga rasanya dunia berhenti berputar diiringi lagu romantis dari Kahitna.

Sejak hari itu, aku sering bertemu mata dengan cowok itu. Cowok yang tidak kuketahui namanya. Cowok yang tidak dikenal dan dirasa tidak pernah dilihat oleh teman-temanku. Cowok yang berkilauan di bawah sinar matahari sore.

Kamu selalu tampan saat wajahmu menatap matahari, pikirku.

Sore itu, saat aku sedang mengunyah tahu bulat dengan khusyuk, cowok itu muncul di depan rumahku. Saat itu matahari mulai tenggelam dan langit berwarna ungu. Cowok itu masih bersinar terang meski tak ada matahari yang menyinarinya. Aneh, awalnya ia mengetahui namaku. Kini, ia muncul di depan rumahku padahal aku tak pernah memberikan alamatku padanya.

“Aku tahu, kau pasti bingung dengan semua ini,” ujarnya sambil duduk di sebelahku.

Aku hanya bisa bengong. Terpesona akan ketampanannya yang berkilauan menyilaukan mataku. Aku ternganga, tak sanggup mengunyah apalagi menelan sisa tahu bulatku. Hebat, dia tidak menunjukkan ekspresi jijik.

“Perkenalkan, aku adalah Pangeran Matahari,” ujarnya lagi.

“Pangeran Matahari? Apakah kau dari dunia sinetron gaje yang di televisi?” tanyaku.

Dia tertawa. Sebuah tawa yang indah. Dan tampan. “Jelas tidak. Aku berasal dari matahari. Aku adalah refleksi kebencianmu pada matahari,”

Aku mengernyit bingung. Mana ada orang dari matahari yang kulitnya sawo matang begitu? Yang ada juga hitam terbakar.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan,” ujarnya lagi. “Mana ada orang dari matahari yang kulitnya sawo matang begitu? Yang ada juga hitam terbakar,” Ia menirukan kata hatiku.

Astral! Dia bahkan bisa membaca pikiranku! “Siapa kau sebenarnya?” Aku mulai takut dan merasa konyol.

“Sudah kukatakan, aku Pangeran Matahari. Aku berasal dari matahari yang selama ini kau benci. Aku bisa membaca hatimu karena aku juga berasal dari dirimu. Kau mengerti?”

Aku menggeleng bodoh. Logikaku tak bisa menerima semua perkataan dan ketampanannya.

“Yah, terserah.” Ia merapikan poninya yang dibuat ke samping. “Kau mencintaiku, bukan?” Matanya lurus menatapku. Mata itu cokelat dan berkilau. Hatiku meleleh.

“Ya ya ya!” teriakku seperti kuis di televisi.

“Kalau begitu, cintailah matahari seperti kau mencintaiku. Bagaimana bisa kau tidak mencintai matahari yang telah memberimu cahaya untuk kehidupan?” Ia menatapku, teduh.

Aku mengerjapkan mataku, dan tiba-tiba ia mulai memudar. “Cintailah matahari. Matahari sedih bila kau benci.” Setelah berkata begitu, ia menghilang. Aku terbengong-bengong sendiri, masih belum mengerti dengan apa yang terjadi. Udara mulai dingin, tapi entah kenapa hatiku menghangat. Matahri benar-benar terbenam sekarang, seiring memudarnya ingatanku tentang Pangeran Matahari.

Aku hanya ingat pada pesonanya saat sinar matahari sore menerpa wajahnya. Itu saja.

Advertisements