Month: November 2013

Titik Jenuh

Setiap orang pasti punya titik jenuh dalam hidupnya.

Jenuh dengan rutinitas yang dijalani setiap hari.

Rutinitas yang rasanya sudah seperti terprogram dalam diri.

Setelah ini, lalu itu.

Ketika begini, maka begitu.

Berputar-putar saja di sana, sampai matahari terbit dari selatan.

Ya, aku jenuh.

Jenuh dengan tugas kuliah yang formatnya itu-itu saja.

Jenuh ketika aku berkata begini, kamu berkata begitu.

Jenuh. Intinya jenuh.

Masalahnya, titik balik setelah kejenuhan ini, apa?

Kembali ke rutinitas dengan perasaan rindu dan merasa lebih baik?

Atau justru berhenti, pergi mencari rutinitas baru yang lebih menyenangkan?

Advertisements

Dukung Dia, Jangan Disuapi

Mari beranalogi tentang masalah yang sering terjadi dalam lingkungan kita.

Katakanlah, kita memiliki seorang bayi yang belum genap berusia satu tahun. Ia baru bisa berdiri dan berjalan tertatih. Dua langkah berjalan, kemudian ia terjatuh. Bayi mungil kita ini juga sedang belajar makan sendiri dengan peralatan makannya yang lucu. Tidak semua makanan berhasil masuk ke mulutnya. Makanan berserakan di meja dan pakaiannya sementara si bayi tertawa senang.

Apakah kemudian kita, sebagai orang tuanya, selalu membantu si bayi mungil dalam melakukan apapun? Apakah kita akan membantu si bayi berdiri dan membiarkan ia berjalan lalu terjatuh kembali; atau kita akan menggendong si bayi kemanapun karena kasihan ia selalu terjatuh? Apakah kita akan membersihkan tumpahan makanan si bayi dan kemudian kita biarkan ia belajar makan sendiri; atau kita akan terus menyuapi si bayi karena kasihan dan malas membersihkan?

Ingatlah bahwa ketika kita memilih untuk terus menggendong dan menyuapi si bayi karena kasihan, sesungguhnya kita sedang menghambat perkembangannya. Di kemudian hari, ia akan merasa malas untuk berjalan atau menyuapkan makanannya sendiri karena ia tahu bahwa akan ada orang lain yang bersedia melakukan itu untuknya.

Bukankah hal yang sama selalu terjadi pada kita di kehidupan sehari-hari?

Kita merasa kasihan karena seorang teman akrab belum menyelesaikan pekerjaannya, sehingga kita biarkan ia meniru pekerjaan kita agar ia juga selesai seperti kita. Semua kita lakukan atas nama kekompakan dan rasa setia kawan.

Satu kali kita membantu, si teman mungkin hanya akan mencontoh konsep yang kita buat.

Dua kali, si teman mungkin akan mencontoh apa yang kita lakukan dengan perubahan di sana-sini.

Tiga kali, si teman mungkin tidak akan bergerak tanpa kita.

Apakah akhirnya kita membantu? Sama sekali tidak.

Bantuan yang seharusnya adalah dukungan dan semangat bagi mereka agar melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Menyemangati dan tidak membiarkan ia hidup manja, bukankah seperti itu yang namanya persahabatan? Berhentilah menjadi orang konyol yang mengatasnamakan kebodohan massal sebagai kekompakan. Manusia adalah makhluk sosial, tetapi pada dasarnya kita akan hidup sendiri, melangkah dengan kaki sendiri, berpikir dengan otak sendiri. Sadarilah, apa yang harus kita lakukan sebagai teman yang baik, bukan teman yang menjerumuskan.

Kamisan dan Menanti Unjuk Rasa

Gedung Sate, Bandung, 7 November 2013.

Kamis sore itu, seperti biasa Kota Bandung diguyur hujan, meski hari itu hanya gerimis yang datang menyapa. Di depan Gedung Sate, gedung paling ikonik di Bandung, nampak lima orang berusia sekitar awal 20-an, dua laki-laki dan tiga orang perempuan, mengenakan pakaian dengan gaya vintage. Mereka berkumpul melingkar, mendiskusikan sesuatu. Salah seorang lelaki yang berambut gondrong, mengenakan kaus dan overall melepaskan kausnya. Aneh, di tengah gerimis dan udara sore yang mulai dingin, ia hanya mengenakan overall saja. Laki-laki yang lain, berambut cepak dan menggunakan kaus hitam, memegang selembar kertas yang terlihat sudah kusut. Satu orang perempuan membawa kamera, sedang dua orang lainnya, satu menggunakan topi lebar dan satunya lagi menggunakan helm, tidak melakukan apapun. Tiba-tiba, dua lelaki itu bergerak menuju jalanan. Mereka berdua berdiri di tengah ramainya lalu lintas, di tengah gerimis. Si gondrong mengangkat kertas kusut itu sambil berteriak “Bangunkan Presiden!” kemudian ia menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Kemudian, entah karena apa, mereka bertukar peran. Kali ini giliran temannya yang berkaus hitam. Ia mengepalkan tangan kirinya ke atas, menggigit kertas kusutnya, lalu mematung di tengah jalan. Beberapa waktu kemudian, ia pindah ke pinggir jalan, masih tetap memegang kertasnya, tetapi kali ini ia menutupi wajahnya dengan celana. Heroik sekali. Hari semakin sore, udara semakin dingin. Kelima orang itu mengakhiri kegiatan mereka setelah sebelumnya ditegur oleh satpam dan polisi.

 

Apa ini?

Mereka adalah orang-orang dari suatu gerakan yang bernama Kamisan Bandung. Dinamakan demikian mungkin karena mereka melakukan kegiatan mereka di hari Kamis di Kota Bandung. Kertas yang mereka bawa memajang gambar Munir, seorang aktivis HAM yang tewas di pesawat.

Aku bukan mau membahas kasus Munir, tetapi aku akan membahas Kamisan ini. Kenapa aku mengobservasi mereka hari itu? Karena aku dan teman-temanku mendapatkan informasi bahwa hari itu akan ada Kamisan (yang kami anggap sebagai unjuk rasa) di depan Gedung Sate. Demi tugas mata kuliah Jurnalistik Foto, kami menunggu dengan sabar. Ternyata massa kami, 11 orang, lebih banyak daripada mereka yang hanya lima orang. Siapa yang ingin berunjuk rasa sebenarnya.

Ketika mereka beraksi, jujur saja aku langsung membatin, apa ini? Orang-orang yang tadinya kukira akan melakukan photoshoot bertema vintage fashion, berlatar Gedung Sate di tengah gerimis, “beraksi” untuk “membangunkan presiden”. Satpam Gedung Sate sendiri mengatakan bahwa ini bukan unjuk rasa. Yah, kami saja yang terlalu bersemangat sehingga menyebut ini “demonstrasi”. Apakah ada yang berorasi di sini? Tidak. Satu-satunya kalimat yang kudengar hanyalah “Bangunkan Presiden” tadi. Itu saja.

Alih-alih mendapatkan foto penuh ekspresi demonstran, aku justru menemukan pertanyaan-pertanyaan tentang mereka. Pertama, mengapa mereka beraksi di depan Gedung Sate? Jika mereka ingin “membangunkan presiden”, maka seharusnya mereka beraksi di depan Istana Negara. SBY tidak ada di Gedung Sate karena yang ada di sana adalah Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar.

Kedua, mengapa mereka harus berdiri di tengah jalan, mematung memegangi tulisan “Bangunkan Presiden”? Masyarakat mungkin peduli akan kasus Munir, tetapi apakah masyarakat masih bisa mempedulikan kasus itu jika ada orang yang berdiri di tengah jalan, mengganggu lalu lintas? Masyarakat bahkan mungkin tidak tahu orang ini ngapain. Bukannya mendapat simpati, yang ada malah mereka menjadi bahan gerutuan masyarakat karena ditabrak salah, tidak ditabrak menghalangi jalan. Lagipula, mana sempat pengendara yang lalu lalang memperhatikan tulisan di kertas A4 yang mereka pegang?

Ketiga, seberapa efektif “aksi” yang mereka lakukan? Menurut salah seorang dari mereka, aksi ini telah dilakukan sekitar 15 atau 16 kali. Apa yang sudah mereka hasilkan selama 15 kali aksi itu? Oh, isu yang mereka sampaikan bahkan tidak begitu diangkat dengan baik. Apa fokus masalah mereka? Munir? HAM? Presiden yang belum bangun?

Pada akhirnya, mereka lebih terlihat seperti remaja-remaja kurang kerjaan yang ingin meramaikan Gedung Sate di Kamis sore bukannya sekelompok orang yang ingin menyampaikan aspirasi. Tidak anarkis, itu baik sekali. Namun, pikirkan secara matang terlebih dahulu, apa yang ingin kamu lakukan? Apa isu yang ingin kamu angkat? Ukur seberapa efektif cara yang kamu tempuh demi selesainya isu tersebut. Perhitungan yang matang dan langkah yang tepat berbanding lurus dengan efektivitas aksi kamu dibandingkan langsung sok aksi turun ke jalan, tanpa pernah tahu apakah suara kamu didengar atau tidak.

 

Penampakannya:

(credit Firda dan Mutia)

Image

muka celana

Image

Aku Rindu Rumah

Satu setengah tahun di sini, di Jatinangor (somewhere 21km from Bandung), baru hari ini aku merasa asing. Sangat asing. Seharusnya tempat ini sejak awal memang udah asing buat aku: orang-orang yang berbicara dalam bahasa sunda, makanan pedas yang pedasnya bikin sakit perut, tinggal di rumah kos, dan yang paling beda adalah rumah kos ini di dalam gang. Tenang, tapi sirkulasi udaranya ga bagus tanpa exhaust fan.

Hari ini, setelah makan sebungkus nasi lauk rendang dari rumah makan di seberang jalan sana, aku benar-benar merasa asing. Rumah kos ini sepi, setiap penghuninya mengurung diri di kamar, asyik dengan kegiatan masing-masing, atau ngampus. Rumah kos ini samasekali berbeda dengan “rumah” yang selama ini kutinggali: ramai, gaduh, hangat.

Sudah tiga hari ini, aku mendengar suara tokek (yang menyeramkan) dari suatu tempat di rumah kos ini. Ini benar-benar menyeramkan sehingga membuatku merinding karena setidaknya, di “rumah”ku sangat jarang sekali banget ada tokek.

Aku ingin pulang…

Aku rindu adik-adikku, Syasya, Mbek, dan Zizi soto, yang selalu kuganggu dan menggangguku.

Aku rindu pelukan mama dan bapak.

Aku rindu masakan mbah.

Aku mulai bosan dengan lontong kari ayam dan soto yang selalu kumakan setiap pagi meski itu enak sekali.

Aku rindu lontong dengan gulai nangka dengan potongan sala dan topping kerupuk merah.

Aku mulai bosan dengan nasi padang yang selalu kumakan setiap siang.

Aku rindu sayur bayam, tahu kecap, atau apapun itu asal buatan mbah.

Aku mulai bosan dengan nasi goreng, nasi gila, dan sejenisnya yang selalu kumakan setiap malam.

Aku rindu apapun yang dimakan “rumah”ku di malam hari.

Aku bukannya ingin mengeluh tentang betapa jauhnya “rumah” atau tidak mensyukuri makanan yang kumakan setiap hari.

Bukan… Aku hanya merindu “rumah”ku yang ramai dan makanan didalamnya.

Ah, sungguh. Hari ini aku benar-benar ingin pulang…