Month: October 2013

Nostalgia Dalam 2.135 Karakter

Malam ini sama seperti malam-malam lainnya. Bedanya, malam ini aku merindukanmu. Tidak, aku merindukan kita—aku dan kamu. Aku rindu pada diriku yang bebas lepas saat bersamamu. Aku rindu kamu yang selalu membuatku menangis dan tertawa.

Aku rindu kamu.

Aku ingat bagaimana dulu kita saling berbalas pantun absurd setelah belajar pantun di mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kita berbalas pantun yang hanya kita yang mengerti mengapa pantun itu ada.

Aku ingat bagaimana dulu kita menggunakan bahasa yang aneh, bahasa yang kini digunakan Vicky jauh sebelum ia terkenal. Ya, kita telah menggunakannya lebih dulu tetapi dunia tidak tahu dan menolak untuk mengerti.

Aku ingat tentang panggilan-panggilan aneh yang kita (atau kamu?) ciptakan.

Aku ingat kita pernah foto bersama dengan muka kita yang sama-sama aneh.

Aku ingat kita selalu bertengkar dan berbaikan, kemudian bertengkar kembali dan berbaikan kembali, kemudian bertengkar lagi dan berbaikan lagi. Selalu seperti itu.

Aku ingat kita pernah menebar sensasi di tanggal cantik tahun 2011.

Aku ingat aku pernah mengatakan bahwa kamu adalah orang yang paling aku benci di kelas. Sungguh, aku hanya bercanda karena kamu orang pertama yang aku lihat setelah mendapatkan pertanyaan itu.

Aku ingat tentang kita yang mendedikasikan diri sebagai soulmate—yang kita buat menjadi sulemet karena wajahmu—masing-masing.

Aku ingat tentang lelucon-lelucon menyebalkan yang selalu kamu lontarkan kepadaku.

Aku ingat dulu kamu pernah meneleponku untuk bercerita dan aku tertidur karena kelelahan. Ketika kamu menyadari itu, kamu selalu mengungkitnya setiap ada kesempatan.

Aku ingat kamu selalu menjadi orang yang menyebalkan.

Aku ingat bagaimana akhirnya kamu menjauh. Kamu tak pernah memberiku alasan yang pasti dan membiarkanku kebingungan seorang diri.

Sungguh, aku rindu kamu.

Aku tahu ketika aku menulis ini akan ada orang lain yang kesal membacanya. Biarlah. Aku mohon satu kali ini saja, hanya malam ini, biarkan aku berkutat dengan pusaran kenangan di otakku.

Aku tahu ketika kamu membaca ini, kamu akan tertawa terbahak-bahak, hidungmu kembang kempis, dan mukamu yang (dulu) mesum itu akan tersenyum penuh kemenangan padaku. Hei, masihkah kamu menjadi orang yang seperti itu? Kamu sadar, sekali lagi kamu berhasil membuatku bersedih. Konyol. Kamu senang bukan, melihatku bersedih hanya karena orang sepertimu?

Aku tahu tiap kali aku bersedih karenamu, aku menuliskan picisan ini. Lagi dan lagi. Aku bahkan tak tahu mengapa aku harus selalu menuliskan ini untukmu. Sungguh, aku merindukanmu. Aku merindukanmu, salah satu orang terbaik yang pernah hadir dalam hidupku.

Advertisements