Month: September 2013

Baca “Lampu Hijau” Bikin Pusing?

Hari Senin (23/9) kemarin, kita disuruh bawa satu edisi koran Lampu Hijau (LH) ke kuliah Bahasa Jurnalistik (Bajuri). Hari itu adalah hari yang bersejarah buat aku dan si LH karena untuk pertama kalinya aku megang dan baca koran itu setelah selama ini cuma lihat di situs-situs lawakan. Sesuai dengan mata kuliahnya, koran LH ini dibawa untuk dianalisis tata bahasanya.

Singkat cerita, setelah semua orang selesai menganalisis satu berita dari koran LH yang dibawanya, dosen meminta pendapat kami tentang koran LH yang baru dibaca. Seorang teman mengatakan “bikin pusing” aku sendiri berpendapat “kreatif”. Setiap orang punya pendapat berbeda, dan karena aku juga boleh berpendapat, jadi aku mau berpendapat tentang “bikin pusing”-nya si koran LH.

Oh, sebelumnya aku mau bilang kalo aku nggak ngangap pendapat teman aku salah loh ya, aku juga nggak bilang pendapat aku bener. Toh, namanya pendapat, kebenarannya kan relatif tergantung orang yang menilai. ^^v

Dari segi layout, bagi orang-orang yang biasa dengan keteraturan –terutama kami para mahasiswa yang SANGAT terbiasa dengan format A4-Times New Roman 12-Spasi 1.5-Justify-Kode kiri atas-nama, npm, kelas kanan atas– koran LH ini memang bikin pusing. Judul segede gambreng dengan warna mencolok dan diletakkan acak-acakan (persis karnaval), ditambah berita yang cuma dua sampai empat baris, lalu bersambung ke halaman belakang. Belum lagi dengan fotonya yang terkadang memamerkan para wanita-wanita berpaha fastfood. Ini “wow” sekali memang, tetapi jujur, ini bisa jadi sekedar hiburan mata buat pembacanya.

Yang paling vital dan dibilang banyak orang “bikin pusing” adalah bahasanya. Ini contoh judul artikel di LH:

Imagesumber: 1cak.com

Oke, mari kita bahas. Bagian mana dari judul artikel di atas yang bikin pusing? Judul yang kelewat panjang dan udah menjelaskan isi? Oke. Dari sisi bahasa? Bagian mana yang bikin pusing? Menurut aku, judul itu malah kreatif dan lucu. Lihat, kalimatnya berima. Ini menandakan kalau yang menulis artikel itu bukan orang yang main-main. Pak Dandi, dosen Bajuriku bilang, yellow newspaper semacam ini justru merupakan penerapan bahasa jurnalistik tingkat tinggi. Mereka bisa menulis sesuai dengan segmentasinya, yaitu orang-orang dengan tingkat pendidikan yang tidak cukup tinggi, dan tidak butuh bahasa “intelek” yang rumit dan kaku.

Intinya, menurut aku terkadang kita (sok) intelek dengan embel-embel status yang kita punya. Mentang-mentang mahasiswa, bacaannya harus segala sesuatu yang menggunakan bahasa yang nggak dimengerti semua kalangan. Mentang-mentang orang kaya, bacaannya harus segala sesuatu yang “mahal dan elit”. Padahal, kalau memang kita sebegitu “intelek”-nya, masa bahasa awam seperti itu saja dibilang “bikin rumit”, mengalahkan bahasa KBBI yang selama ini kita baca? Apakah kita sudah tervickynisasi sejak lama, sampai-sampai selalu menggunakan bahasa (sok) intelek dan nggak bisa ngerti bahasa awam? Semoga aja nggak.

Masalah-masalah yang aku temukan waktu menganalisis koran LH cuma masalah tanda baca dan kata yang tidak baku. Tetapi sekali lagi, ini tentang segmentasi bukan? Ini tentang bagaimana menyampaikan informasi dengan cara yang efektif bukan?

Semoga saja nggak ada pihak yang tersinggung sama pendapat aku. Ayo, mari berdiskusi tentang ini kalau mau :D. Aku bukan pembela koran LH atau yellow newspaper lainnya loh, ya. Aku bahkan nggak dibayar seperak pun buat nulis ini. Sekali lagi, aku cuma menyampaikan pendapat berdasarkan apa yang aku alami. Semoga bangsa Indonesia semakin cerdas dengan keberadaan media massa.