Month: August 2013

Eh, Gue Masuk Jurnal Loohh…

So, What?

Mulai semester ini, aku masuk jurusan Ilmu Jurnalistik walaupun belum resmi karena belum ikut osjur (ospek jurusan). Departemen Ilmu Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (elah lengkap banget nyebutinnya) ini punya citra sebagai departemen yang “keras” sehingga orang-orang di dalamnya terkesan tough dan keren. Padahal? Aku juga nggak tau. Baru masuk juga ini.

Tapi, ngeliat euforia temen-temen yang lain, aku heran juga kenapa semua orang terlihat bersemangat menyongsong dunia ilmu jurnalistik. Belum mulai kuliah aja udah pasang avatar ke-jurnal-jurnal-an. Atau masang bio dan nge-twit yang intinya “liat-deh-gue-anak-jurnal-loh.” Yah, itu hak orang sih mau pasang avatar atau nge-twit kaya apa. Tapi, aku nggak ngerti aja, emang kenapa kalo kamu masuk jurnal? Oh, aku nggak bilang kalo aku nggak bangga masuk departemen ini. Tapi, menurut aku agak aneh aja kalau melebih-lebihkan embel-embel “anak jurnal” ini. Tiap orang mengekspresikan kebanggaannya dengan cara yang berbeda-beda, dan aku bukan bagian dari “orang-orang” itu.

Masuk jurnal dan berhasil menyelesaikan osjur aja, itu berarti kita baru naro sebelah kaki di anak tangga pertama. Menyelesaikan studi di sini, berarti kita baru menapaki satu anak tangga. Masih banyak anak tangga lain yang harus kita capai bukan? Lebih baik nggak memamerkan kebanggaan dengan berlebihan, melainkan berlebihan dalam membuktikan kebanggaan kita. IMHO 🙂

Suka Belum Tentu Mahir

Entah kenapa, bagi banyak orang menyukai suatu hal artinya kamu mahir dalam bidang itu.

Suka memasak, artinya mahir memasak makanan lezat ala chef hotel bintang lima.

Suka menggambar, artinya mahir menggambar dengan indah.

Suka menulis, artinya mahir menghasilkan tulisan bagus dan berkualitas.

Padahal, suka belum tentu mahir. Banyak orang yang menyukai suatu hal, tapi belum mahir melakukan hal itu. Mungkin, mereka lebih menyukai prosesnya daripada hasil yang akan didapat.

Misalnya, aku suka memasak. Aku suka bereksperimen dengan makanan, walaupun aku nggak yakin akhirnya itu bisa dimakan. Aku lebih menikmati prosesnya. Dengung mixer yang mengaduk adonan, aroma makanan yang sedang dimasak, memotong bahan-bahan (walaupun ukuran potongannya jadi sangat-nggak-wajar). Apapun hasilnya, aku menyukai proses itu. Dan itulah alasan kenapa aku-suka-masak-walaupun-hampir-semuanya-gagal.

Banyak orang menuntut kita untuk mahir dalam hal yang kita sukai dengan kata-kata “katanya suka ini….” Memang bukan suatu hal yang salah kalau kita mahir melakukan hal yang kita sukai. Tapi, gimana kalau belum mahir juga? Ini juga bukan sesuatu yang salah dong. Toh, semua butuh proses kan? 🙂

Lebaran dan Euforia THR

Taqobalallahu minna wa minkum. Selamat hari raya Idul Fitri 1434 H. Mohon maaf lahir dan bathin.

Alhamdulillah masih bisa ketemu lebaran tahun ini, ngumpul bareng keluarga yang baru aku sadar ternyata anggotanya ada banyak. Oh bukan, SANGAT BANYAK soalnya yang lebaran di sini cuma setengahnya.

Image

banyak kan yaaa.. (photo by ayah Syahrul Jalal)

Dan yang namanya lebaran di pikiran anak kecil, dan remaja-yang-belum-bisa-moveon-dari-sifat-kekanakan identik dengan baju baru, kue lebaran, dan yang pastinya duit THR. Berhubung keluargaku nggak menganut paham bajubaruisme di hari raya, jadi aku mau ngebahas soal THR.

Buat anak kecil, apasih pentingnya duit buat mereka? Nggak begitu banyak kebutuhan yang harus mereka beli.  Tapi kenapa THR itu seolah menjadi kewajiban? Sederhana, aroma lembaran uang baru pemicunya. Setiap lembar uang baru itu punya sensasi berbeda, soalnya biasanya dapet uang bau amis dari pasar. Tapi begitu lebaran, uang-uang yang masih kaku dengan baunya yang selalu bikin rindu mengisi dompet.

Beranjak dewasa, kebiasaan minta THR ini tetap nggak bisa berhenti selama belum punya penghasilan sendiri. Serunya rebutan, nagih-nagih THR ke saudara yang lebih tua, dan pastinya uang baru penghias dompet, nggak mungkin bisa dilupakan keseruannya. Ini bukan cuma cerita tentang uang, tapi tentang kemeriahan suasana lebaran, dengan uang baru dan toples-toples kue.

Happy Eid Mubarak!