Lagu yang Bikin Nangis di Pendengaran Pertama

Umm… Sejujurnya aku nggak bisa mikir apa intro yang tepat untuk postingan ini. Sekarang aku lagi di Cisral lantai 4, berusaha mengerjakan skripsi tapi kemudian merasa bosan dan nggak bersemangat. Terus dari playlist-ku ternyata ada beberapa lagu yang kalau diingat-ingat bikin aku nangis sejak pertama kali mendengarkannya.

Dengan bangga aku mau bilang kalau dalam daftar ini nggak ada lagu cinta-cintaan! Hahaha. Lagu-lagu ini adalah lagu yang liriknya sedih, bikin aku jadi mikir tentang banyak hal yang berujung pada cucuran air mata.

The Script – If You Could See Me Now (2012)

Rasanya ini adalah lagu pertama yang bikin aku nangis dalam sekali dengar. Waktu pertama kali dengar lagu ini, aku sendirian di rumah dan lagi nongkrong di ruang tamu demi sinyal wifi yang lebih baik.

Lagu yang ditulis oleh si vokalis, Danny O’Donoghue, dan si gitaris, Mark Sheehan, ini berbicara tentang gimana mereka berharap orang tua mereka melihat kesuksesan mereka sekarang. Liriknya sederhana dan nggak banyak metafora seperti lirik-lirik The Script yang lain. Justru karena kesederhanaan itu yang bikin aku gampang banget merasa emosional dengan lagu ini. Aku jadi ikut mikir, gimana kalau ketika aku sukses nanti (dengan entah apa kriteria sukses yang ada) tapi orang tuaku udah nggak bisa lihat itu? Aku jadi mikir gimana kalau waktu yang ada ternyata nggak cukup bagiku untuk meraih pencapaian yang remarkable?

I hope you’re up there with God saying, “That’s my kid!”

The Black Eyed Peas – Where Is The Love? (2003)

Aku baru tahu kalau ternyata BEP punya lagu dengan lirik seperti ini.

Aku pertama kali dengar lagu ini beberapa bulan yang lalu, dari daftar apa gitu di Billboard, lupa. Waktu itu adalah waktu dimana kasus Ahok lagi panas-panasnya, dan isu Timur Tengah juga masih tetap panas.

Intinya lagu ini bercerita tentang kemanusiaan yang udah pudar. Perang yang nggak pernah berhenti; diskriminasi terhadap suku, ras, agama, dan golongan tertentu; tentang manusia yang udah lupa gimana caranya peduli sesama manusia.

Apa yang bikin aku nangis adalah, udah 14 tahun sejak lagu ini dirilis dan keadaan masih nggak berubah, justru makin parah. Aku memikirkan anak-anak di Palestina, di Suriah, yang nggak tahu apa-apa dan hidup dalam kecemasan setiap hari. Aku memikirkan gimana sekarang orang-orang dengan gampangnya membunuh orang lain. Bisa nggak sih, dunia damai aja? Bisa nggak sih, kita diam dan mensyukuri aja apa yang kita punya? Bisa nggak sih orang-orang nggak berbantah-bantahan dan ribut melulu?

People killing, people dying
Children hurt and you hear them crying
Can you practice what you preach?
Or would you turn the other cheek?
….
Cause people got me, got me questioning
Where is the love?

JJ Project – Tomorrow, Today (2017)

Lagu ini direkomendasikan oleh Annan saat kami dalam perjalanan pulang habis dari wisudaan minggu lalu. Awalnya itu karena habis ngomongin kita yang sama-sama masih nggak bisa menjawab mau kemana setelah lulus. Biasalah pokoknya struggle mahasiswa bangkotan di awal umur 20-an.

Apa yang bikin aku nangis adalah lirik lagu ini benar-benar mengatakan semua yang ingin aku katakan. Aku yang jadi skeptis dan melupakan mimpi-mimpi masa lalu. Aku yang merasa kehilangan arah dan nggak tahu mesti berpijak kemana. Semua ketakutan-ketakutan tentang pilihan, tentang masa depan.

Again today, there are questions I don’t know
I’m trying to answer but I’m not confident
Is it this way or that way?
I’m afraid of my decision
With an anxious heart heart heart heart
I’m standing in front of the next next next choice
Between paths that I’ve never gone on before
How can I find my way?
I’m afraid, day by day

Honorable Mention:
Justin Bieber – Believe (2012)

Aku nggak nangis dengar lagu ini di pendengaran pertama sih, tapi tetap aku masukkan dalam daftar ini karena momen nangisnya justru baru terjadi beberapa minggu lalu.

Pertama kali dengar lagu ini adalah beberapa hari setelah pengumuman SNMPTN Tertulis 2012. Waktu SMA, guruku meragukan pilihan universitasku, tapi orang tuaku mendukung apapun yang aku pilih. Sampai sekarang, dengan kuliahku yang entah kapan selesainya ini, mereka masih nggak menuntut. Cuma mengingatkan, tapi nggak menuntut apa-apa. It breaks my heart to think they still believe in me, while all I do is disappointing them. I’m so sorry.

It didn’t matter how many times I got knock on the floor
You know one day I would be standing tall.
Just look at me now.
Cause everything start from something,
And something would be nothing,
Nothing if your heart didn’t dream with me.
Where would I be if you didn’t believe?

Semoga aku kembali bersemangat.

What The Fudge Have I been Done With My Life? 

dek Seonho

Uhuk

Beberapa bulan yang lalu aku nggak sengaja kecebur dalam dunia yang nggak pernah kubayangkan sebelumnya: dunia K-Pop. 

Jauh sebelum Lee Minho jadi bintang iklan Luwak White Koffie”,  wabah Korea udah mulai merebak di awal masa SMA-ku melalui drama Boys Before Flower. Waktu itu, hampir semua anak perempuan di kelasku nonton drama itu dan ngomongin ceritanya nyaris setiap saat. Sebagai orang yang nggak ikutan nonton, aku cuma menyimak obrolan mereka. Makanya sedikit-sedikit jadi tau kalau Lee Minho dan Kim Bum adalah tipe ideal hampir semua orang waktu itu, seperti Jerry Yan dan Vic Zhou bagi mbak-mbak di era 2000-an.

Pengetahuanku soal dunia K-Pop (sampai sekarang) juga cuma sebatas hasil menyimak obrolan teman-teman. Karena temenan sama Dedek yang dinding kamarnya penuh dengan muka abang-abang SuJu (bahkan sampai ke wadah tisu dan tempat sampah) aku jadi tahu lagu Sorry Sorry. Eh, tapi siapa sih yang nggak tahu lagu ini? Hahaha. Trus aku juga tahu No Other-nya SuJu karena itu soundtrack adikku dan mantannya. Begitu juga dengan drama dan reality show yang aku sekadar tahu aja. 

Sampai akhirnya, beberapa bulan lalu aku mulai nonton Produce 101 Season 2 tanpa sengaja. 

Waktu itu, aku dan Firda lagi kongkow di kosan Mumut dan mereka nonton PD101. Seperti biasa, aku ikut-ikutan menyimak dari tempat dudukku di depan lemari Mumut. Oh, ternyata kontes mencari idol. Oh, ternyata rame. Oh ternyata bikin aku ngomong, “nanti kalo nonton episode 3, ajak aku ya!”

Seperti biasa, aku selalu over-invested dengan apa yang aku tonton/baca. Apa yang terjadi selanjutnya sama seperti ketika aku menangisi kematian Koro-sensei; ketika aku jadi sayang banget sama Barney Stinson (dan mencari sangat banyak video Neil Patrick Harris); atau ketika aku suka banget sama Sheldon Cooper, bahkan sampai mimpi ketemu Jim Parsons. 

Dari yang tadinya cuma ingat Ong si tampan, Samuel si berbakat, adek Woojin yang menggemaskan, dan Daehwi si-sempurna-tipikal-anak-yang-gak-disukai-di-kelas; aku jadi suka lebih banyak trainees, terutama mereka-mereka yang ada di kisaran umurku. Tanpa aku sadari, aku jadi benar-benar emotionally invested to some complete strangers. 

Aku nangis pas bagiannya Ha Sungwoon di Downpour. Aku nangis baca lirik rap-nya Kim Jonghyun di Fear. Aku nangis karena Park Woodam terpaksa dievaluasi di dance, padahal baru aja dia dikenal lewat kemampuan vokalnya. Aku nangis lihat Im Youngmin nahan nangis pas minta maaf soal “skandal”-nya, dan pas dia beneran nangis di akhir episode 11. Aku kesal karena Noh Taehyun cuma dapat 6 votes di concept evaluation karena sebelumnya dia udah menyajikan penampilan legendaris dari tim Shape of You. Acara penuh drama, kontroversi, dan rumor ini benar-benar sudah menenggelamkanku. 

Setelah episode final, Wanna One, final group hasil acara ini jadi punya segudang acara. Mereka belum resmi debut tapi hype-nya udah gede banget. Begitu juga dengan, setidaknya, trainees yang masuk 35 besar. Mereka jadi punya banyak jadwal pemotretan, wawancara, melakukan V Live, bahkan beberapa sudah diwacanakan akan debut. Aku ikut senang dengan kesibukan mereka. Aku bersemangat memikirkan mereka semua pasti akan sukses walaupun nggak masuk Wanna One. Aku bahagia mereka semua bahagia. 

Kemudian, sesuatu mengetuk kepalaku. 

Mereka ada di kisaran umurku, beberapa bahkan jauh lebih muda. Tapi mereka udah begitu sibuk melakukan banyak hal untuk mewujudkan cita-citanya jadi idol. 

Noh Taehyun lebih tua dua tahun. Ha Sungwoon lebih tua setahun. Im Youngmin, Ong Seongwoo, Hwang Minhyun, Kim Jonghyun, Kim Sanggyun, Takada Kenta, semuanya lahir di tahun yang sama denganku. Kim Jaehwan, Kang Daniel, dan Kim Yongguk lebih muda setahun. Park Woojin dan Ahn Hyeongseob lebih muda empat tahun. Kim Samuel dan Yoo Seonho lahir di tahun yang sudah kuanggap sebagai bayi selamanya. 

Trus, aku ngapain? Apa yang udah aku lakukan dengan hidupku? Apa pencapaian yang udah aku buat? 

Wow, ternyata acara ini juga bikin aku krisis eksistensi diri. 

Semesta Bermain

Paham kan, gimana perasaan ketika tahu semesta kembali mengajakmu bermain dan bercanda? 

Aku bakal mudik besok, dan rasanya aneh. Maksudku, biasanya kalau mau pulang tuh bawaannya bersemangat, pokoknya beda lah perasaannya. Tapi kali ini aku malah merasa gugup dan nggak tahu kenapa, merasa 40% nggak mau pulang. Biasanya beberapa hari sebelum pulang aku udah sibuk beliin titipan bayi-bayi, bahkan udah mulai  packing paling nggak sejak H-7 saking bersemangatnya. Tapi kali ini, aku baru sibuk belanja hari kemarin (Sabtu) dan tadi siang. Packing pun baru habis Ashar, padahal aku bakal jalan ke Bandung sekitar jam 8-an. Ini mungkin karena kenyataan bahwa diri ini masih belum lulus dan males kalo ditanyain (lagi), jadi rasanya nggak semangat buat pulang haha. Tapi aku muak di Nangor, aku muak di kosan. Jadi aku harus pulang. 

Pesawatku berangkat jam 12.50 dan travel yang kupesan berangkat jam 5.30. Berhubung nggak ada travel dari Nangor yang berangkat jam 4.30 (dan nanggung subuh juga), aku memutuskan untuk kongkow aja di Mekdi Simpang Dago, wifian sampai menjelang subuh. Nanti dari Nangor, aku bakal turun di Jalan Cipaganti, naik angkot sedikit ke pool X-Trans yang deket Ciwalk, menitipkan koper, trus cabut ke Mekdi. Rencana sudah tersusun rapi di kepalaku tapi ternyata hidup nggak harus selalu berjalan sesuai rencana. 

Pertama, supir travelnya nggak mau turun ke Jalan Cipaganti, mungkin males karena mikirnya bakal macet. Tapi aku masih oke karena bisa naik angkot juga dari DU dan ongkosnya cuma beda seribu. 

Kedua, ternyata sampai di DU, sekitar jam 9.30 udah nggak ada angkot. Mungkin ada, tapi jarang banget. Aku nungguin sendirian kaya anak hilang di depan gerbang Unpad. Akhirnya aku memutuskan untuk naik Go-Car aja. 

Sampai di pool X-Trans, sebenarnya aku agak bingung karena loket reservasinya gelap, dan cuma ada segerombolan bapak-bapak yang lagi nonton bola. Ada dua ibu-ibu yang kukira juga lagi nungguin travel. Jadi dengan pedenya aku ikut duduk nggak pake nanya-nanya. Bapak-bapak yang ada di situ juga nggak nanya apa-apa. 

Sambil duduk bernapas, aku mikirin gimana caranya ke simpang. Hmmm udah nggak ada angkot. Naik gojek berarti. Tapi nanti subuh pake apa ya? Kalo nggak ada angkot? Kalo nggak ada gojek? Masa jalan? Serem. 

Kelamaan mikir bikin aku jadi haus dan memutuskan untuk nyari minimarket terdekat dan siapa tahu 24 jam jadi aku bisa nongkrong di sana sampai menjelang subuh. Ketika akhirnya menemukan Indomaret yang ada tempat duduknya, aku beli susu coklat panas dan sebotol air mineral (maafkan aku, bumi). Baru beberapa menit aku menikmati indahnya hidup ini, si teteh mulai beberes. Tokonya mau tutup.

Haha.

Aku naik ke Cihampelas Skywalk, tapi ternyata nggak ada orang dan udah mulai gerimis. Jadi aku memutuskan untuk balik ke pool dan berteduh.

Pool-nya makin sepi. Ini semakin aneh karena harusnya ada keberangkatan jam 11 ke bandara. Tapi bodohnya aku masih sok tau dan nggak nanya. Orang yang masih ada di sana juga masih nggak bertanya. Sama-sama cueklah pokoknya. 

Di tengah kebengonganku seorang diri, seorang teteh-teteh datang dan bilang mau beli tiket travel ke bandara. Satpamnya bilang, kalo yang ke bandara itu dari pool satunya lagi, sekitar 200 meter dari pool yang ini. Doooeeengggg!!!! ta…tapi kemarin pas aku booking kata aa-nya dari pool yang ini… 

Masalahnya, selama ini aku nggak pernah naik X-Trans, makanya nggak tau pool yang mana ke mana. Biasanya aku naik MGo tapi kebetulan penuh semua huft. 

Akhirnya, tengah malam aku menggeret koper kaya peserta AFI yang tereliminasi, di Jalan Cihampelas yang untungnya sudah lumayan sepi. Aduh aku malu banget rasanya, tapi nggak tau malu sama siapa hahaha.

Sampai di pool yang benar, aku duduk dan mengatur napas lagi. Menggeret koper 200 meter ternyata bikin keringatan. Sudah hampir tengah malam dan aku sudah 90% yakin pengen ke Mekdi aja. Udah ngecek gojek, tapi nggak tahu kenapa masih belum jadi mencet tombol order. 

Di tengah kebingungan, aku ngeliat kakak kelasku selama SD-SMP-SMA dan emang aku kenal. Doi kuliah di UPI dan tinggal di asrama mahasiswa daerah yang ada di ujung jalan Cihampelas. Kebetulan si kakak juga tipe senior yang ramah dan mengayomi juniornya. 

Biasanya aku orang yang males banget nyapa orang lain, tapi kali ini semesta menyuruhku menyapa si kakak. Ternyata, kami naik pesawat yang sama dan bahkan travel di jam yang sama juga. Doi akhirnya menawakanku untuk nginap di asrama aja. Mungkin sekadar basa-basi, tapi aku mengiyakan karena nggak punya alasan juga untuk bengong sendirian di pool travel.

Dari awal sebenarnya aku udah kepikiran asrama mahasiswa ini. Tapi, aku sendiri belum pernah main ke sana dan nggak kenal siapa-siapa juga hahah. Dengan si kakak pun aku sekadar kenal, bukan yang akrab sampai aku berani minta nginap di kamarnya. Tapi demi nanti cuci muka, sikat gigi, dan sholat subuh yang lebih baik, jalani saja lah ya. 

Makasih loh kak, sudah menampung shameless junior ini 💜

Yes, my life is so damn funny. 

Semiliar

Dalam satu perjalanan libur lebaran keluarga, aku melontarkan sebuah pertanyaan random ke mamaku. 

“Ma, kalau dihitung-hitung biaya hidup Cendikia sejak lahir sampai sekarang, semiliar ada, nggak?”

“Mungkin,” jawab mamaku. “Sejak masih hamil juga modalnya udah gede,” Yap, euforia anak pertama. 

“Tapi,” lanjutnya, “Kalau Cendikia nggak ada juga belum tentu mama punya uang semiliar. Bisa aja uangnya habis buat ke dokter sana-sini biar bisa punya anak,” 

22

wp-1495116780566.png

Alhamdulillah masih dikasih umur….

Hah, 22. Sudah lima kali aku merayakan ulang tahun di Bandung/Nangor.

Sejak aku mulai menganggap ulang tahun bukan lagi sesuatu yang spesial, yang harus pakai kejutan, kue, atau balon–ulang tahun kali ini juga kulewati dengan biasa-biasa saja. Aku flu dan batuk sejak seminggu yang lalu dan ini bikin aku nggak kemana-mana dan nggak pengen makan apa-apa.

Tadi pagi, aku kira aku mimpi mematikan alarm jam 5, sehingga aku baru bangun jam 5.27 karena ada yang nangis. Ayahnya anak lorong sebelah baru saja meninggal, dan dia nangis di kamar temannya yang ada di depan kamarku. Aku jadi canggung karena aku nggak kenal dia dan ada banyak orang yang berkumpul di depan kamarku.

Habis sholat subuh, aku jumping jacks 50 kali karena ceritanya mau mulai diet dan olahraga lagi. Berat badanku sekarang benar-benar ada di angka mimpi buruk. 

Terus jam 9-an aku ke perpus, tadinya kau ngerevisi bab 1-3 sekaligus nyari teori mediasi-nya Roger Silverstone. Tapi laptop-ku ini entah kenapa jadi super lemot kalau nyambung ke internet. Belum lagi pengaruh ngantuk karena sejam sebelumnya aku minum obat flu.

Jam 11 aku balik lagi ke kosan karena benar-benar nggak tahan ngantuk. Aku tidur, bangun jam 12.30 trus memutuskan untuk makan ke bajuri karena lapar dan pengen makanan panas berkuah. Pulang-pulang, aku keringatan karena beberapa hari ini panas banget.

Sorenya, Firda ngajak beli seblak. Sekalian kita mau nonton Produce 101 episode 5 di kosan Mumut. Sampai di tukang seblak, aku malah jadi nggak pengen makan seblak. Ngelihat orang beli jus alpukat, aku jadi pengen tapi nggak pengen-pengen banget. Ketika akhirnya memutuskan untuk memesan jus, eh ternyata udah dibeliin sama Firda karena “kue ulang tahun udah terlalu mainstream,

Pas mau pulang, Mumut ngasih minuman Sari Asem karena tadinya dikira aku bakal beli seblak. Haha fail lagi. Tapi makasih banyak loh, guys.

Jadi, pengen apa di umur 22?

Pengen lulus…

Sejujurnya aku masih takut. Masih nggak bisa menjawab pertanyaan “habis lulus mau kemana?” Masih nggak punya bayangan apa-apa. Walaupun kedengarannya klise, tapi aku cuma ingin tahun depan nggak merayakan ulang tahun di Nangor, atau di rumah. Aku pengen ada di suatu tempat, entah di mana, dan udah memghasilkan uang sendiri. Tapi di sisi lain, aku pengen tetap fleksibel bisa pulang kapan aja.

Aku pengen hidup sebagai manusia, bukan robot 9-5. Aku ingin jadi manusia berguna.

Day 7: Recommend a Book To Read and Why It’s Important

Hmmm….. 

Sejujurnya udah lama banget aku nggak baca buku sebagai hiburan dan pengisi waktu luang. Buku yang terakhir aku baca adalah Teori Komunikasi Massa-nya Dennis McQuail, dan itu juga cuma bagian-bagian yang kubutuhkan doang hahaha. 

Beneran deh, aku sebenarnya kangen banget dengan perasaan ketika selesai membaca sebuah novel yang mengesankan, trus aku jadi bengong dan nggak bisa berhenti memikirkan karakter-karakternya. Aku rindu perasaan puas itu. Aku rindu debaran-debarannya. Aku ingin kembali merasakan ketika gaya tulisan sebuah novel mempengaruhi gaya tulisanku selama berhari-hari. 

Jadi, setelah berpikir keras dan mengamati rak buku lama-lama, nggak tahu kenapa aku ingin merekomendasikan serial Cewek Paling Badung (The Naughtiest Girl In School) karya Enid Blyton. 

Punyaku yang versi sampul ini. Sumber: kandangbaca.com

Iya, ini novel anak-anak (tapi Harry Potter pada dasarnya juga novel anak-anak, jadiiii……); Iya, ini ditulis lebih dari 70 tahun lalu; Iya, ini Enid Blyton pengarang serial Lima Sekawan itu. 

Novel ini menceritakan kisah Elizabeth Allen, seorang anak manja yang badung dan kurang ajar. Dia sempat gonta-ganti pengasuh karena nggak ada yang kuat menghadapi keusilannya.

Suatu hari, orang tua Elizabeth memutuskan untuk mendaftarkannya ke Sekolah Whyteleafe, sebuah sekolah asrama untuk anak laki-laki dan perempuan. Awalnya Elizabeth memberontak. Di sekolah, dia selalu membuat kekacauan supaya punya alasan untuk diusir pulang. 

Ternyata, Whyteleafe bukan seperti sekolah pada umumnya. Di sana, para murid mengatur diri mereka sendiri. Semua laporan kenakalan, kecurangan, dan sanksi dijatuhkan dalam sebuah rapat besar yang dipimpin oleh seorang murid laki-laki dan perempuan dari kelas tertinggi. Rapat besar itu diikuti oleh seluruh siswa yang bersama mencari solusi untuk permasalahan mereka. Selain itu, semua uang yang dimiliki oleh setiap anak harus diserahkan ke dalam kotak besar, dan setiap minggunya semua anak mendapat jatah uang saku yang sama. Sisa uang tersebut dipakai untuk membeli keperluan bersama, yang tentu saja disepakati melalui keputusan rapat besar. Di sana, guru hanya bertindak sebagai pengajar dan pengawas. Rapat besar hanya meminta pendapat guru kalau mereka sudah menemui jalan buntu. 

Seperti cerita-cerita Enid Blyton yang lain, karakter utama novel ini adalah anak yang cerdas, jago olahraga, dan berkemauan keras. Selain itu, tentunya ada keusilan-keusilan yang dilakukan antar murid, atau bahkan pada gurunya! 

Ceritanya emang ringan dan anak-anak banget, sih. Bacanya pun bisa sekali duduk. Kalau ditanya apa pentingnya, ya nggak tahu hahaha. Soalnya ini kan bukan buku yang life-changing atau gimana gitu, ya. 

Apa yang bikin aku suka sama buku ini adalah, bagaimana Sekolah Whyteleafe membiasakan anak-anak untuk jadi mandiri, dan “memaksa” teman mereka untuk mandiri dan patuh pada aturan. Sekolah ini juga memberi kesempatan berubah kepada anak-anak yang bermasalah, bahkan dengan cara yang unik. Misalnya, si badung Elizabeth ternyata nggak betah di sekolah karena dia rindu rumahnya, juga rindu kuda-kudanya (orang kaya, bo…) Maka, sekolah memberi kesempatan pada Elizabeth untuk melakukan kegiatan yang dia suka, seperti bermain piano, berkebun, dan berkuda sampai semester berakhir. Setelahnya, terserah Elizabeth apakah dia tetap ingin keluar atau tinggal. 

Hasilnya? Tentu saja Elizabeth bertahan. Sifatnya pun jadi lebih baik karena dukungan teman-temannya di Sekolah Whyteleafe. 

Ngomong-ngomong, gimana ya cara pengucapan ‘Whyteleafe’? 

Tentang Alien dan Dementor

Beberapa minggu yang lalu pengumuman SNMPTN, ya? Wah, cepat juga. Ternyata udah lima tahun berlalu sejak aku lulus SMA. Buat yang keterima, sukses ya! Buat yang belum berhasil, semangat buat menempuh jalur-jalur lain menuju perguruan tinggi! 

Ngomong-ngomong, aku mau cerita tentang pengalamanku waktu berjuang dapat PTN, lima tahun lalu. 

Awalnya, alhamdulillah aku dapat kesempatan ikut SNMPTN Undangan. Waktu itu, pilihan pertamaku adalah Psikologi UGM, karena dari SMP emang udah pengen banget kuliah psikologi. Tadinya pengen jadi Psikopad alias anak Psikologi Unpad. Bodohnya, aku justru baru tahu kalo yang di Unpad adalah jurusan IPA, sementara aku udah terlanjur masuk IPS karena nggak mau belajar trigonometri dan fisika hahaha. Trus pilihan kedua aku ngambil Akuntansi Unair, karena waktu itu lagi suka akuntansi dan ngasal aja gitu milih Unair. 

Sebelum benar-benar memutuskan pilihan jurusan, aku banyak ngobrol sama seorang guru BK, sebut saja Pak Ar. Waktu itu, dia meragukan pilihanku karena jalur undangan itu juga mengandalkan reputasi alumni. Sementara di dua kampus pilihanku nggak ada alumni dari SMA kami. Aku ingat, waktu itu aku keukeuh dan bilang, “Siapa tahu saya bisa jadi alumni yang pertama di sana, pak!” dan Pak Ar akhirnya cuma bilang, “Terserah sih. Bapak cuma takut kamu kecewa kalau nanti nggak lulus,”

“Nggak apa-apa, pak. Kan yang penting saya udah nyoba,” kataku yakin. 

Beberapa hari kemudian, guru BK yang lain, ibu-ibu yang sudah cukup berumur berinisial Bu Al, yang di belakangnya suka disebut sebagai Bu Alien, mengumpulkan anak-anak yang terdaftar untuk jalur undangan. Dia disebut Alien karena galak dan nyebelin minta ampun. 

Trus, dia menanyakan jurusan pilihan setiap anak. Waktu kusebutkan pilihanku, dengan sengit dia bilang, “Emang kamu yakin bisa diterima di situ? Ganti aja pilihannya!” 

Laaah aku kesal. Aku masih ingat mukanya yang galak dan menyebalkan. Tapi sarannya nggak kuturuti karena kan bukan dia yang mau bayarin sekolahku. Suka-suka dong~

Pada akhirnya, emang aku nggak lulus jalur undangan sih. Tapi ketidaklulusan itu kemudian memotivasiku untuk bisa lulus di jalur tulis. Aku ingat banget, sebulan sebelum SNMPTN Tertulis, tiap pulang bimbel aku belajar lagi pake buku-buku latihan soal. Tiap hari aku ngerjain soal-soal TPA, karena penting dan cukup menyenangkan. Akhirnya aku pun berhasil lulus di Ilkom Unpad, pilihan kedua setelah tetap memilih Psikologi UGM sebagai pilihan pertama. 

Dementor. Sumber: Harry Potter Wikia

Kembali ke hari ini, aku masih berjuang untuk bisa lulus dari (yang katanya) “Sekolah Ilmu Komunikasi Terbaik di Indonesia” ini. Kali ini, aku kembali bertemu dengan sosok yang kurang lebih sama dengan Bu Alien–Bu Dementor. Julukan ini secara kurang ajar kuberi padanya karena layaknya Dementor di dunia Harry Potter, dia menghisap kebahagiaan banyak orang. 

Udah sih, aku udah nggak akan menuliskan kesuraman yang dibawanya padaku karena alhamdulillah, masa-masa melt down yang itu sudah lewat dan aku udah mulai bisa move on dengan kehidupan dan skripsiku. 

Cuma ya, kadang-kadang aku kepikiran kenapa dalam lima tahun aku mengalami banyak perubahan kepribadian. Kalau sekarang aku mengingat ceritaku dengan Bu Alien, aku kagum pada diriku di masa lalu. Aku kagum pada aku yang berusia 16 tahun, berpendirian teguh, dan keras memperjuangkan apa yang dia mau. Aku kagum pada aku yang dulu, yang nggak peduli omongan orang lain selama aku nggak merugikan mereka. Aku kagum pada masa dimana aku cuek dan berani mempertaruhkan risiko. Aku kagum pada aku yang percaya diri, percaya pada kemampuanku dan berani untuk membuktikannya. 

Tadi siang, aku ketemu seorang teman yang waktu itu usmas bareng dengan penguji Bu Dementor. Dia sedang mengurus syarat-syarat sidang akhir, sementara aku masih luntang-lantung dengan Bab 3. Dia inilah yang dulu akhirnya bikin aku tetap mengumpulkan revisi usmas, padahal awalnya aku udah mau nyerah aja. 

“Oh, lo jadi lanjutin yang kemarin?” tanyanya. 

“Iya, hehe,” jawabku nyengir. 

“Tuh kan, kemarin tuh gue sama yang lain heran kenapa sih lo nggak mau lanjut. ‘Anjir, si Cendi kenapa nggak mau ngumpulin.’ Orang gue sama si I juga dibikin down kan, sama dia. Tapi kita masih memperjuangkan. Lah lo malah udah nyerah duluan,” cerocosnya. 

Aku cuma mesem-mesem. 

Nggak tahu ya, apa waktu itu emang faktor PMS, atau sekarang aku emang mengalami degradasi jadi pribadi yang lemah dan nggak punya semangat juang. Waktu itu aku bahkan galau sampai lebih dari empat bulan. Sebenarnya sekarang masih sering galau sih, cuma udah nggak separah dulu yang bikin pengen banget mencet exit button. Sejak nelpon Subau sambil menangis ria, aku udah mulai semangat lagi. Mulai berusaha berdiri lagi pelan-pelan. 

Sekarang tiap omongan Bu Dementor kembali mengusik pikiranku, aku selalu berusaha membuangnya pakai ingatan-ingatan bahagia. Biar bisa mengeluarkan patronus untuk menjagaku tetap waras. 

Ngomong-ngomong patronus, menurut situs Pottermore patronus-ku adalah “Mongrel Dog”. 

Ummm… Itu jenis anjing apa, ya? 

Day 6: Something I’ve Always Wanted to Do but Haven’t

Banyak. 

Waktu SD, mamaku sebenarnya udah menyarankan aku untuk kursus menjahit. Tapi, waktu itu aku masih badung dan nggak mau jadi cewek girly. Sekarang nyesal banget karena baru sekitar dua tahun belakangan beneran kepikiran untuk punya skill macam menjahit, memasak, dan bikin kue. Apalah daya kayanya sekarang udah telat belajar jahit karena aku bahkan masih nggak bisa menggaris lurus. 

Trus dari dulu sebenarnya aku pengen ikut bela diri. Apa kek, karate, taekwondo, silat, atau apapun lah. Tapi nggak ingat kenapa aku nggak pernah jadi ikutan. 

Aku juga pengen bungee jumping atau apapun yang melibatkan loncat dari ketinggian. Aku selalu mikir kenapa aku nggak pernah nyoba hal-hal gini waktu umurku masih belasan dan belum jago overthinking kaya sekarang. Makanya, pas nonton The Kings of Summer yang adegan loncat dari tebing itu, aku jejeritan kepengen tapi sekarang mah udah takut hahaha. Semoga nanti ada kesempatan dan aku berani! 

The Kings of Summer

Naik gunung. Banyak teman-temanku yang selalu pengen naik gunung tapi nggak pernah diizinkan sama orang tuanya. Sementara aku, si anak bebas ini, sebenarnya dibolehin naik gunung tapi akunya yang malas latihan fisik hahaha. Naik bukit ke air terjun Pancaro Rayo dua tahun lalu aja bikin aku susah gerak tiga hari, apalagi kalau harus mendaki Gunung Kerinci yang jadi atap Sumatera itu tanpa persiapan. 

Berenang, berkuda, dan memanah. Aku baru tahu kalo tiga hal ini adalah sunnah yang dianjurkan oleh Nabi untuk diajarkan orang tua, pas udah kuliah. Dulu sih pengen karena bisa renang adalah kewajiban, dan berkuda + memanah kelihatannya keren gitu. Hahaha. 

Pada dasarnya, aku bisa renang, kok. Tapi aku nggak yakin bakal survive kalo aku kecemplung ke laut, danau, atau kolam renang yang dalamnya lebih dari tiga meter. Tiap minta bapak buat ngajarin renang beneran, pasti ngomongnya, “Emang kucing pernah belajar renang? Kamu kan manusia, pake insting, jangan kalah sama kucing!” huft. Sementara kalo berkuda dan memanah, mahal hahaha. Lagian di kampung halamanku nggak ada tempat berkuda juga. Ada kuda, tapi buat narik penumpang alias bendi. 

Paralayang. Pengen nggak sih ngerasain bisa terbang? Aku pengen! Waktu pulang kapan ya itu, kayanya dua tahun lalu, bapak bilang kalo ada yang main paralayang dari Bukit Kayangan, dan bisa buat umum juga. Tadinya aku udah mau nyobain tuh, tapi pas dengar ada yang nyangkut di pohon, jadi keder hahaha. 

Trus pas aku bilang mau ke Malang tahun lalu, bapak juga semangat banget mau ngemodalin aku untuk main paralayang di Batu. Tapi sayangnya kemarin nggak ke sana, makanya nggak jadi, deh. Semoga nanti ada kesempatan! 

Belajar psikologi. Sejatinya, aku udah kepikiran untuk kuliah psikologi sejak kelas 8! Tapi rupanya takdir membawaku untuk kuliah jurnalistik. Jadi, yaudahlahya.